Apa yang tidak paradoks dalam hidup ini?

Perempuan adalah penyatuan dualitas. Pada suatu waktu ia begitu lekat dengan luka, duka, dan lara. Tubuhnya ditempeli stereotip masyarakat yang kemudian membuatnya berada dalam kotak-kotak. Dirinya tercatat pula sebagai orang yang paling banyak menerima kekerasan. Entah itu fisik, psikis, ekonomi, budaya hingga kekerasan politik. Hal itu kemudian membawa perempuan berada dalam fase panjang keterasingan dengan duka yang dialaminya dan bahagia adalah niscaya. Separuh dirinya ialah air mata.

Di waktu-waktu lain ia adalah suka serta sumber bahagia. Ialah muasal kehidupan yang panjang. Pada dirinya kehidupan seseorang bermula. Perempuan ialah berkah semesta. Kekuatannya adalah cinta terpendam bagi siapa saja. Perempuan, mata air yang mengisi ceruk-ceruk kering bumi.

Ketika air mata dan mata air teramu jadi satu. Ketika dualitas berkelindan di dalam diri seorang perempuan juga ketika perempuan menyadari bahwa dirinya adalah paradoks, ia akan mengenali dirinya dengan berani. Proses menilik diri akan melahirkan perubahan sikap dan cara pandang perempuan terhadap segala sesuatu dan situasi yang terjadi di lingkungan sosialnya. Perubahan yang membuat perempuan bergerak, terlihat, dan ada.

Pameran Air mata – Mata air ingin menghadirkan banyak pertanyaan tentang perempuan juga sekaligus menjawab persoalan-persoalannya. Untuk itu, kami berharap pameran ini juga mampu menggiring wacana kepada masyarakat secara terbuka, dan mengajak lebih banyak lagi orang untuk ikut terlibat dalam peristiwa-peristiwa kesenian dengan segala persoalan-persoalannya, terutama luka dan suka para perempuan.

Hal-hal yang Harus Dipertimbangkan

Kami sangat berbahagia, jika dalam Kampanye ini, seniman dapat meluangkan materi, waktu, ide dalam mengupayakan gagasan penciptaan. Namun, kami tentu mengajak seniman untuk tidak (lagi) hanya menempatkan perempuan sebagai objek dalam karyanya, namun lebih pada bagaimana seniman menangkap peristiwa-peristiwa yang dialami perempuan korban. Juga bagaimana seniman melihat, mendengar dan merasakan kejadian-kejadian tersebut, terjadi dekat sekali. Selain untuk tidak menempatkan korban menjadi korban berlapis, juga untuk menolak stereotip dan dominasi antara laki-laki dan perempuan. Pameran ini tentu sebagai bentuk dukungan terhadap korban tanpa mengorbankan korban.

Mengutip Dewi Candraningrum*: Dalam dunia seni, tragedi dan penderitaan tak selalu kelam. Kesedihan tidak melulu monokromatik, tetapi juga bisa rakus akan warna. Untuk itu, kami persilahkan seniman untuk berdialog panjang dengan kegelisahannya menangkap peristiwa, dan mewujudkan Pameran Air Mata- Mata Air bagi masyarakat Bengkulu, untuk perempuan di seluruh penjuru.

Bengkulu, September  2017

Panitia Pameran Air mata- Mata air