Bengkulu, 12 Maret 2019 – Yayasan PUPA Bengkulu rayakan International Women’s Day dengan acara berjudul “Berpolitik dengan Gembira: Suara Bengkulu untuk Indonesia tanpa Kekerasan”. Sejalan dengan tema internasional Think equal, build smart, innovate for change, Yayasan Pusat Pendidikan untuk Perempuan dan Anak (PUPA) Bengkulu menggugah kesadaran perempuan untuk mendesak ruang politik bagi perempuan yang demokratis, setara, dan bebas kekerasan serta mendorong delapan isu ketidaksetaraan gender untuk masuk menjadi isu prioritas pada calon anggota legislatif saat terpilih nantinya.

Catatan Tahunan (CATAHU) Komnas Perempuan 2019 memperlihatkan 406.178 kasus kekerasan terhadap perempuan yang dilaporkan pada tahun 2018. Jumlah ini meningkat 14% dari tahun sebelumnya, mengindikasikan semakin meningkatnya kesadaran masyarakat untuk mengungkapkan kasus kekerasan terhadap perempuan dan semakin membaiknya mekanisme pencatatan dan pendokumentasian kasus kekerasan terhadap perempuan di berbagai lembaga layanan.

Kekerasan di ranah privat tetap menempati angka tertinggi, yaitu kekerasan yang dialami oleh istri sebanyak 5.114 kasus, kekerasan dalam pacaran sebanyak 2.073 kasus, serta kekerasan terhadap anak perempuan sebanyak 1.417 kasus.  Dilihat dari persentase bentuk kekerasannya, kekerasan fisik menempati persentase tertinggi, yaitu 41% (3.951 kasus), kekerasan seksual 31% (2.988 kasus), disusul  kekerasan psikis dan kekerasan ekonomi.

Bengkulu pun marak dengan beragam kasus kekerasan terhadap perempuan yang menjadi pemberitaan daerah dan nasional. Tercatat 134 kasus kekerasan terjadi di Bengkulu selama tahun 2018 (CATAHU 2019, Komnas Perempuan).

“Kami berharap, kegiatan ini mampu mendekatkan isu kekerasan terhadap perempuan kepada seluruh masyarakat, khususnya pada calon anggota legislatif dan ikut mendorong pengesahan Rancangan Undang-undang Penghapusan Kekerasan Seksual, untuk mendukung dan melindungi perempuan,” – Susi Handayani, M.Si Direktur Yayasan PUPA.

Indonesia sudah mendekati pesta demokrasi  17 April 2019, Bengkulu termasuk di dalamnya. Jumlah pemilih di Bengkulu sebanyak 1.399.108 orang. Pemilih perempuan sebanyak  690.866 orang dan pemilih laki-laki 708.242 orang. Melihat nyaris 50% pemilih adalah perempuan, Yayasan PUPA Bengkulu mendorong memandatkan delapan bidang permasalahan perempuan pada calon anggota legislatif untuk disuarakan saat mereka terpilih nanti. Delapan bidang kritis tersebut adalah perempuan dan ketenagakerjaan, pendidikan, kekerasan seksual, kesehatan, identitas dan ekspresi, ruang hidup dan agraria, kebijakan dan perlindungan hukum, serta media dan teknologi. Perjuangan untuk menyuarakan delapan bidang ini memerlukan kerjasama dengan berbagai pihak, termasuk akademisi.

“Kami membuka pintu untuk bersinergi dengan akademisi bagi para calon anggota legislatif jika nantinya terpilih menjadi anggota legislatif untuk memperkuat perjuangan anggota legislatif untuk isu ketidaksetaraan gender.”- Dr. Titiek Kartika, Akademisi dan Aktifis Perempuan.

Acara “Berpolitik dengan Gembira: Suara Bengkulu untuk Indonesia tanpa Kekerasan” dikemas dalam bentuk Talkshow, Pameran Foto dan Digital Artwork semuanya mengusung tema kekerasan terhadap perempuan. Dilaksanakan di Aula Universitas Muhammadiyah Bengkulu pada Selasa, 12 Maret 2019.

Merayakan International Women’s Day, Yayasan PUPA menghimbau kepada:

  1. Masyarakat dan Pemerintah Daerah Bengkulu untuk bersama-sama mendorong pengesahan Rancangan Undang-undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU P-KS).
  2. Seluruh Calon anggota legislatif mulai dari DPRD Kota, DPRD Provinsi, DPR RI, DPD baik perempuan maupun laki-laki, memiliki visi dan misi untuk memberikan solusi pada permasalahan kekerasan terhadap perempuan ketika mereka terpilih.
  3. Masyarakat bersama dengan lembaga perempuan untuk bersinergi dalam membicarakan peluang caleg yang nantinya terpilih.
  4. Caleg mengambil isu dari 8 bidang kritis isu perempuan terintegrasi dalam kepentingan politik caleg.

IWD menjadi momentum #gerakbersama untuk #ambilbagian dalam penghapusan kekerasan terhadap perempuan. Sudah terlalu lama kekerasan perempuan mendapatkan pengabaian, stigma, bahkan sulit untuk mendapatkan perlindungan yang adil diranah hukum maupun sosial.

Mari Bengkulu #gerakbersama membangun Indonesia tanpa kekerasan !

***

 

Nara Hubung:

Susi Handayani

Direktur Yayasan PUPA Bengkulu

0813- 7384-5705

 


Tentang International Women’s Day (IWD)

IWD diperingati setiap tanggal 8 Maret setiap tahunnya untuk merayakan prestasi perempuan secara sosial, ekonomi, budaya, dan politik. IWD juga menjadi ajakan bagi seluruh elemen masyarakat untuk mempercepat kesetaraan gender. Tahun ini UN Women, organisasi PBB yang berfokus pada pemberdayaan perempuan dan kesetaraan gender, mengangkat tema tentang Think equal, build smart, innovate for change. Tema ini untuk menggugah kesadaran perempuan untuk mendesak ruang politik bagi perempuan yang demokratis, setara, dan bebas kekerasan.